Mempersiapkan Gereja Menghadapi Bencana

SUMUT,PGI.OR.ID-Bertempat di Monako Park, Sibiru-biru, Deli Serdang Sumatera Utara, Unit Pengurangan Risiko Bencana (PRB) PGI bekerjasama dengan PGIW Sumatera Utara (PGIW SU) telah menyelenggarakan lokakarya bertajuk Gereja Aman Tanggap Bencana, pada 26-28 September 2019. Sebelumnya, kegiatan yang sama juga telah dilaksanakan di Mamasa, Sulawesi Barat, pada 20-22 Agustus 2019, di mana Gereja Toraja Mamasa (GTM) menjadi tuan rumah.

Lokakarya kali ini diikuti oleh 24 peserta yang datang dari berbagai gereja-gereja anggota PGI di Sumatera Utara, dan satu lembaga keumatan yaitu Pelkesi. Gereja-gereja yang mengutus peserta antara lain  HKBP, GKPA, GKPI, HKI, GKPS, GBKP, GMI, AMIN, GKPPD, GKPS dan lainnya. Hadir pula utusan dari PGI W Riau.

Di hari pertama, peserta mendapat informasi terkait kebijakan nasional pra bencana, dan berbagai strategi pengurangan risiko bencana, yang disampaikan oleh Berton Panjaitan, PhD dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Sementara di hari kedua, sharing pengalaman penanggulangan bencana oleh gereja, antara lain GBKP, HKBP, PGIW Sumut, dan terutama oleh Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Propinsi Sumut. Masih hari kedua, diisi dengan Refleksi Teologia yang dipandu oleh Pdt. Prof. Emmanuel Gerrit Singgih dari UKDW Yogyakarta.

Bencana akan datang, apa yang akan kita lakukan? Inilah pertanyaan sentral yang digumuli peserta ketika memasuki lokakarya. Para peserta mengemukakan potenti bahaya dan bencana di tempat masing-masing. Apa yang sudah dilakukan Gereja? Bagaimana kelak, bila terjadi bencana apa yang hendak dilakukan?

Dari lokakarya yang berlangsung selama tiga hari ini, berhasil dirumuskan rekomendasi untuk PGI, dan PGIW Sumut, serta rencana tindak lanjut (RTL). Untuk PGI, peserta merekomendasikan agar PRB-PGI melanjutkan serta memfasilitasi seminar atau lokakarya anggota PGI dengan pendekatan wilayah dan pulau, mendampingi sinode sereja anggota yang berencana membentuk seksi/komisi/tim/bidang, dan program tanggap kebencanaan, serta menjadi koordinator komunikasi ketika menghadapi situasi bencana, termasuk rekon dan pasca bencana.

Sementara untuk PGIW SU, peserta merekomendasikan agar memberdayakan pemuda/i gereja anggota PGIW SU menjadi pemuda gereja tanggap bencana (PGTP), menjalin hubungan dengan BPBD/Lembaga Kemanusiaan Wilayah dan melakukan pelatihan bersama dalam hal tanggap bencana, memberdayakan Crisis Center yang sudah terbentuk agar benar-benar menjadi Kelompok Tanggap Bencana (KTB), dan  lewat Wakil Sekretaris Umum PGIW SU, sebagai narahubung untuk berkomunikasi ketika menghadapi situasi bencana termasuk rekon serta pasca bencana di wilayah.

Sedangkan untuk RTL, peserta lokakarya menjadi narahubung dari sinode gereja/lembaga masing-masing, namun apabila ada yang harus dikomunikasikan pimpinan sinode gereja/lembaga harap diberitahukan kepada PGI dan PGIW SU,  sejak sekarang mempersiapkan calon pemuda/i gereja anggota PGIW SU menjadi Pemuda Gereja Tanggap Bencana (PGTP), dengan melakukan pelatihan untuk asesmen, serta berkomitmen untuk tetap berkontribusi dalam situasi Tanggap Bencana dalam ruang lingkup seluas-luasnya termasuk kesiapsiagaan (simulasi kebencanaan).

Pewarta: Eliakim Sitorus

Editor: Markus Saragih