PGI Bersama UNKRISWINA Menanam Mangrove untuk Lingkungan yang Lebih Baik

SUMBA,PGI.OR.ID-Merespons fenomena kerusakan lingkungan hidup serta sebagai upaya mitigasi bencana, Universitas Kristen Wira Wacana (UNKRISWINA), dan Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) menunjukkan kepeduliannya melalui aksi penanaman mangrove (bakau) di bibir pantai Manubara, kecamatan Kambera, kabupaten Sumba Timur, Selasa (3/9).

Pada kesempatan ini, mewakili PGI, Pdt. Gomar Gultom, dan Pdt. Jimmy Sormin, melakukan penanaman beberapa bibit mangrove secara simbolis untuk diteruskan oleh civitas akademika UNKRISWINA, dan masyarakat setempat.

Sejak beberapa tahun terakhir UNKRISWINA memang telah menginisiasi kegiatan penanaman mangrove di beberapa lokasi pantai. Bekerja sama dengan pemerintah kabupaten dan warga masyarakat, civitas UNKRISWINA telah menanam ribuan bibit mangrove. Sebagian dari hasil penanaman tersebut bahkan telah berupa hutan mangrove yang hijau dan indah menghiasi bibir pantai.

Ini merupakan contoh yang sangat baik untuk dapat diilakukan oleh lembaga pendidikan maupun lembaga lainnya, seperti gereja. Dengan memulihkan dan menjaga ekosistem pantai, sekaligus juga akan mengurangi risiko bencana. Misalnya, jika terjadi gelombang besar atau tsunami yang akan menerjang daratan, hutan bakau akan memecah gelombang tersebut sehingga mengurangi kerusakan/kerugian yang diakibatkannya.

Pdt. Gomar Gultom mengatakan, apabila penanaman mangrove dapat dilakukan secara berkelanjutan, juga akan memberi berbagai manfaat bagi penduduk yang tinggal di sekitar pantai. Biota laut akan lebih terlindungi dan berkembang biak dengan baik ketika ada hutan bakau di sekitar pantai. Para nelayan tentu akan menerima manfaat ekonominya.  Namun hal ini menuntut komitmen para nelayan juga untuk turut menjaga kelestarian ekosistem pantai dengan tidak melakukan penangkapan ikan dengan cara-cara yang tidak benar.

Terkait kegiatan ini, Pdt. Jimmy Sormin menyampaikan bahwa budaya kerakusan telah berkontribusi besar terhadap kerusakan lingkungan hidup.

“Sektor bisnis, seperti perhotelan di bibir pantai, banyak yang tidak mementingkan keberlanjutan (sustainability) dari lingkungan sekitarnya, demi mendatangkan tamu hotel sebanyak-banyaknya. Alhasil, ekosistem di sekitar pantai menjadi rusak. Jika kerakusan ini terus menguasai para pebisnis maupun masyarakat umum, maka ketidakpedulian akan lingkungan hidup serta kerusakannya akan semakin memburuk,” jelasnya.

Sejatinya hutan mangrove sangat berkontribusi dalam pencegahan abrasi dan likuifaksi, serta menjadi tembok alami pesisir dan pelindung habitat fauna. Namun akibat kelalaian dan perbuatan yang tidak bertanggung jawab dari manusia, setidaknya 1,82 juta ha hutan mangrove di Indonesia dalam keadaan kritis, dan dalam kurun waktu 2010-2015 telah terjadi degradasi hutan mangrove seluas 260.859,32 ha.

Keberadaan mangrove dan segala manfaatnya sangat tergantung pada kita semua untuk melakukan aksi kepedulian terhadap pertumbuhan dan penyebarannya di pesisir pantai nusantara ini. Melalui kepedulian kita tersebut, generasi kita ke depan akan merasakan buah-buahnya.

Pewarta: Pdt. Jimmy Sormin

Editor: Markus Saragih