PGIW DKI Jakarta Desak Pemerintah Membumikan Peradaban Gotong Royong

JAKARTA,PGI.OR.ID-Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia Wilayah (PGIW) DKI Jakarta menegaskan bahwa, Indonesia bukan Peradaban Arab atau pun Islam. Bahkan, jauh sebelum Islam masuk ke Indonesia sudah dipengaruhi peradaban gotong royong.

“Peradaban gotong royong sudah puluhan ribu tahun ada di Nusantara. Jadi apa yang dikemukakan Samuel Huntington dalam buku Benturan Antar Peradaban bahwa Indonesia adalah Peradaban Islam itu salah dan perlu dikoreksi. Mungkin Huntington melihat bahwa Indonesia mayoritas penduduk Islam terbesar di dunia, tapi kita punya peradaban tersendiri yakni peradaban gotong royong,” kata Ketua Pengabaran Injil PGIW DKI Jakarta, Merphin Panjaitan dalam bedah buku Peradaban Gotong Royong di Aula PGIW DKI Jakarta, Jl. Kayu Jati III, Rawamangun, Jakarta Timur, Jumat (21/6).

Bedah buku Peradaban Gotong Royong digelar Dewan Pimpinan Daerah Persekutuan Intelegensia Kristen Indonesia (DPD PIKI) DKI Jakarta dan PGIW DKI Jakarta.

Hadir sebagai pembahas Sekretaris Jendral Pertemuan Nasional Perkumpulan Senior Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (PN PS GMKI Jakarta) Sahat Sinaga, Akademisi UKI Gilbert Simanjuntak, dan Ketua PGIW DKI Jakarta Pdt. Manuel Raintung.

Merphin menegaskan, kerja bakti yang dikenal masyarakat Indonesia bukanlah peradaban gotong royong karena hakekatnya ada unsur paksaan yang dilakukan perangkat desa atau kampung. Gotong royong, lanjutnya, adalah unsur kesukarelaan.

Lebih lanjut, Merphin mengatakan, gempuran teknologi belakangan ini membuat masyarakat Indonesia lebih individualis, bahkan semakin tergerusnya nilai-nilai persaudaraan, diantara sesama. “Padahal gotong royong adalah adalah persaudaraan, kesetaraan, kemerdekaan dan kebaikan bersama. Karenanya, Pemerintah ke depan harus membumikan gotong royong agar jangan tergerus dengan nilai-nilai yang tidak sesuai jati diri bangsa,” jelas Merphin.

Sementara, Ketua PGIW DKI Jakarta Pdt. Manuel Raintung mengimbau agar umat Kristiani Jakarta untuk tetap mengembangkan kehidupan bersama, baik sesama agama dan berbeda agama. “Jangan karena berbeda agama kita jadi tidak bisa bersama dan rukun, tetapi harus dikedepankan hidup bersama, dan saling mengasihi dan menghargai satu sama lain,” ujar Manuel.

Pewarta: RAL
Editor: Markus Saragih